Karena itu, setiap rencana kegiatan membutuhkan kajian lingkungan yang spesifik terhadap wilayah yang akan terdampak.
Bagi Rajo Ameh, persoalan tersebut menjadi penting karena Belitong memiliki karakter geografis sebagai pulau dan kawasan kepulauan.

Aktivitas ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan, tetapi juga perikanan, kelautan, pariwisata, perdagangan, serta berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya pesisir.
Ia menilai laut harus dipandang sebagai aset jangka panjang.
Jika kualitas lingkungan laut mengalami penurunan, dampaknya menurut dia dapat dirasakan bukan hanya oleh nelayan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan wisata, pemancingan, perdagangan hasil laut, dan sektor pendukung lainnya.
“Laut kami adalah ruang kehidupan. Jangan sampai kepentingan ekonomi hari ini justru menimbulkan persoalan yang harus ditanggung masyarakat pada masa depan,” kata Rajo Ameh.
Dalam pandangannya, nelayan tradisional merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Ruang laut yang selama ini digunakan untuk mencari ikan bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang ekonomi yang secara langsung menentukan pendapatan keluarga.
Perubahan kondisi perairan dapat memengaruhi aktivitas nelayan melalui berbagai mekanisme.
Gangguan terhadap habitat ikan, perubahan kualitas perairan, peningkatan kekeruhan, maupun perubahan pola aktivitas kapal dapat menjadi persoalan apabila tidak dikelola secara hati-hati.
UNEP menyebut masyarakat yang bergantung pada perikanan dapat terdampak apabila kegiatan pertambangan laut dikelola secara buruk.
Pada saat yang sama, lembaga tersebut juga menekankan pentingnya pengelolaan, pemantauan, dan penilaian dampak yang memadai terhadap kegiatan di lingkungan laut.
Karena itu, Rajo Ameh meminta agar kepentingan masyarakat pesisir tidak ditempatkan sebagai pertimbangan tambahan, tetapi menjadi bagian utama dalam setiap proses pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan ruang laut.
Menurutnya, pembangunan ekonomi tetap diperlukan, tetapi harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
“Kalau laut rusak, yang kehilangan bukan hanya nelayan. Masyarakat pemancing, pelaku usaha, sektor wisata, bahkan generasi berikutnya juga bisa merasakan dampaknya,” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap pariwisata juga menjadi bagian dari perhatian tersebut.
Belitong selama ini dikenal sebagai daerah dengan potensi wisata bahari, pantai, pulau-pulau kecil, serta lanskap pesisir yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Menurut Rajo Ameh, pembangunan ekonomi di Belitong tidak semestinya hanya melihat satu sektor.


















