Pertambangan, pariwisata, perikanan, kelautan, pertanian, perdagangan, dan usaha masyarakat harus dipertimbangkan dalam satu kerangka pembangunan yang saling melengkapi.
Ia menilai laut yang terjaga dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Sebaliknya, apabila pemanfaatannya tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, keuntungan yang diperoleh dalam jangka pendek berpotensi diikuti biaya sosial dan lingkungan pada masa depan.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian UNEP terhadap pengelolaan lingkungan laut.
UNEP menyebut aktivitas seperti pertambangan dan pengerukan dapat menjadi salah satu tekanan terhadap ekosistem laut, bersama berbagai tekanan lain seperti polusi, perubahan habitat, dan aktivitas ekstraktif.
Meski demikian, persoalan pertambangan laut tidak cukup diselesaikan melalui perdebatan antara pihak yang mendukung dan menolak.
Diperlukan data ilmiah, kajian dampak, transparansi perizinan, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat terdampak agar setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan.
Aspek penting lainnya adalah memastikan masyarakat mengetahui secara jelas lokasi, metode, skala, serta potensi dampak dari setiap kegiatan yang direncanakan.
Informasi tersebut diperlukan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima keputusan, tetapi memiliki ruang untuk memberikan masukan dalam proses kebijakan.
Bagi wilayah kepulauan seperti Belitong, tata ruang laut menjadi sangat penting.
Berbagai kepentingan dapat bertemu di ruang yang sama, mulai dari jalur pelayaran, wilayah tangkap nelayan, kawasan konservasi, pariwisata, perikanan budidaya, hingga kegiatan ekonomi lainnya.
Karena itu, pemanfaatan ruang laut membutuhkan perencanaan yang hati-hati dan berbasis data. Setiap perubahan fungsi ruang perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kegiatan masyarakat yang telah berlangsung sebelumnya.
Rajo Ameh berharap pemerintah dapat mendengarkan suara masyarakat Belitong dalam menentukan arah pembangunan wilayah tersebut.
Ia menekankan bahwa masyarakat lokal memiliki pengalaman langsung mengenai kondisi laut dan perubahan lingkungan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Menurutnya, pembangunan seharusnya memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menyampaikan kekhawatiran, aspirasi, serta alternatif solusi.
“Kita harus menjaga laut untuk kehidupan kita bersama. Jangan hanya melihat nilai ekonominya sekarang, tetapi lihat juga apa yang akan diwariskan kepada anak cucu,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat agar tidak bersikap pasif.
Menurutnya, menjaga laut merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, nelayan, akademisi, pemerhati lingkungan, serta seluruh pemangku kepentingan.


















