Polisi Bongkar Pabrik Uang Palsu Rp1 Miliar di Bandung

Foto ; dok/tribratanews*

Modus tersebut menunjukkan bahwa peredaran uang palsu tidak selalu menyasar transaksi bernilai besar.

Pedagang kecil, warung kelontong, maupun penjual bensin eceran yang menerima uang secara cepat dan berulang justru dapat menjadi titik rawan apabila pemeriksaan keaslian uang tidak dilakukan secara teliti.

Dari lokasi penggerebekan, polisi menyita sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas produksi.

Barang bukti tersebut antara lain satu unit laptop, satu unit CPU, delapan unit printer, bahan kertas, tinta, cat semprot, alat sablon, serta bahan lain yang diduga digunakan dalam proses pembuatan uang palsu.

Polisi juga menemukan bahan kertas yang apabila seluruhnya digunakan untuk produksi diperkirakan memiliki nilai nominal uang palsu hingga ratusan juta rupiah.

See also  2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

Menurut keterangan kepolisian yang dikutip sejumlah media, para tersangka belajar membuat uang palsu secara otodidak. Mereka memperoleh desain dasar dari internet, kemudian melakukan pengolahan menggunakan aplikasi Photoshop sebelum mencetaknya.

Informasi tersebut memperlihatkan bagaimana perangkat digital yang pada dasarnya merupakan teknologi umum dapat disalahgunakan untuk mendukung tindak pidana ketika digunakan tanpa memperhatikan hukum dan etika.

Namun, kemampuan menghasilkan gambar yang menyerupai uang bukan berarti menghasilkan Rupiah yang sah.

Bank Indonesia menegaskan bahwa Rupiah memiliki berbagai unsur pengaman yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenali keasliannya.

See also  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Pemeriksaan tersebut dilakukan melalui metode 3D, yakni Dilihat, Diraba, dan Diterawang.

Melalui metode Dilihat, masyarakat dapat memperhatikan warna, gambar, nominal, benang pengaman, tinta yang memiliki karakteristik tertentu, serta berbagai unsur visual lainnya.

Pada tahap Diraba, masyarakat dapat merasakan tekstur hasil cetak tertentu dan kode yang diperuntukkan bagi penyandang tunanetra.

Sedangkan melalui metode Diterawang, masyarakat dapat memeriksa tanda air serta gambar yang saling mengisi atau rectoverso ketika uang diarahkan ke sumber cahaya.

Edukasi tersebut menjadi penting karena uang palsu tidak hanya berkaitan dengan kerugian korban yang menerimanya.

See also  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Peredaran uang palsu juga dapat mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap alat pembayaran dan pada akhirnya memberikan dampak lebih luas terhadap aktivitas ekonomi.

Bank Indonesia bersama unsur Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) terus menjalankan upaya pencegahan dan pemberantasan pemalsuan Rupiah.

Dalam keterangan resmi pada Mei 2026, Bank Indonesia juga menyatakan bahwa kualitas uang palsu yang ditemukan selama ini relatif rendah dan masyarakat dapat membantu mengenalinya melalui metode 3D.

Pada periode 2017 hingga November 2025, BI menyebut telah memusnahkan 466.535 lembar uang Rupiah palsu yang berasal dari berbagai sumber temuan secara nasional.

banner 1080x1592

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *