Pengembangan destinasi tidak hanya membutuhkan pemerintah dan pengelola, tetapi juga pemandu lokal, pelaku usaha, pemuda, masyarakat desa serta komunitas yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah dan lingkungan setempat.
Kajian tentang perkembangan Open Pit Nam Salu mencatat keterlibatan masyarakat sejak 2016 dalam eksplorasi dan pengumpulan informasi sejarah kawasan, kemudian berkembang menuju pengelolaan wisata.

Dari sisi fasilitas, data Sistem Informasi Pariwisata Nasional Kementerian Pariwisata mencatat Open Pit Nam Salu berada di Jalan Kampong Gunung, Desa Senyubuk, Kecamatan Kelapa Kampit.
Sistem tersebut juga mencatat keberadaan area parkir, toilet, jalur evakuasi, pusat informasi dan tempat ibadah, serta kegiatan wisata alam, wisata buatan dan wisata tirta.
Data operasional yang tercantum menyebut jam kunjungan setiap hari pukul 09.00–16.00 WIB.
Kondisi operasional dapat berubah, sehingga pengunjung tetap perlu melakukan konfirmasi kepada pengelola sebelum perjalanan.
Di tingkat internasional, keberadaan Belitong UNESCO Global Geopark memberikan legitimasi penting terhadap nilai geologi dan budaya kawasan, tetapi status UNESCO bukan berarti seluruh kawasan otomatis bebas dari ancaman kerusakan.
Justru status tersebut membawa tanggung jawab konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan berkelanjutan.
Pada 2026, pengelola Geopark Belitong juga melakukan simulasi revalidasi yang melibatkan masyarakat di sejumlah geosite, termasuk Open Pit Nam Salu.
Evaluasi mencakup kualitas interpretasi, pengelolaan pengunjung, konservasi, nilai pendidikan, partisipasi pemangku kepentingan dan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Gunung Kik Karak pada akhirnya memiliki cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah bukit dengan danau bekas tambang.
Di satu sisi terdapat jejak industri timah yang pernah membentuk perekonomian Belitung; di sisi lain terdapat batuan, mineral, hutan, satwa dan tradisi masyarakat yang menjadi bagian dari identitas kawasan.
Tantangan ke depan adalah memastikan wisata tidak menghilangkan nilai yang hendak dijual kepada wisatawan. Konservasi harus berjalan bersama promosi.
Infrastruktur harus dibangun tanpa merusak karakter geosite.
Cerita sejarah harus disampaikan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, sementara legenda dan tradisi lokal tetap dapat ditampilkan dengan penanda yang jelas sebagai warisan lisan.
Jika prinsip tersebut konsisten diterapkan, Gunung Kik Karak dan Open Pit Nam Salu dapat menjadi ruang belajar terbuka mengenai hubungan manusia dengan sumber daya alam: bagaimana timah membentuk sejarah ekonomi, bagaimana pertambangan mengubah bentang alam, dan bagaimana kawasan pascatambang dapat diarahkan menjadi aset pendidikan, konservasi dan ekonomi masyarakat.
Gunung Kik Karak bukan sekadar bekas tambang.
Ia merupakan arsip terbuka tentang bumi, manusia dan perjalanan Belitung Timur dari masa pertambangan menuju masa geowisata berkelanjutan. | BerlianPos.Com | */Redaksi | *** |




















