Sejarah Pempek Palembang, Kuliner Sungai Musi yang Mendunia

Foto ; repro/dok/fb*

BerlianPos.Com | JSCgroupmedia ~ Pempek Palembang terus bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia yang menghubungkan kekayaan sumber daya perairan, tradisi masyarakat, dan perkembangan industri makanan modern.

Berawal dari olahan ikan yang dipadukan dengan tepung sagu, makanan khas Sumatera Selatan ini berkembang menjadi beragam sajian dengan kuah cuko bercita rasa pedas, manis, dan asam, serta kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Read More
banner 300x250

Keistimewaan pempek bukan hanya terletak pada rasa dan teksturnya, melainkan juga pada hubungan panjang masyarakat Palembang dengan Sungai Musi.

See also  Rajo Ameh Minta Perpres 79/2026 Dikaji, Soroti Laut Belitong

Sungai yang membelah kota tersebut sejak lama menjadi jalur transportasi, perdagangan, dan sumber penghidupan.

Ketersediaan ikan air tawar serta pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi bagian penting dari lingkungan budaya yang memungkinkan makanan berbahan dasar ikan berkembang di wilayah tersebut.

Seiring perubahan zaman, pempek mengalami transformasi dari makanan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi komoditas kuliner bernilai ekonomi.

Rumah produksi, toko oleh-oleh, pedagang kaki lima, restoran, hingga usaha makanan beku ikut memperluas jangkauan pemasarannya.

Perkembangan itu menjadikan pempek bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan ekonomi masyarakat Sumatera Selatan.

Sejarah awal pempek kerap dikaitkan dengan tradisi pengolahan ikan masyarakat Palembang pada masa lampau. Dalam berbagai kisah populer, makanan ini disebut berasal dari olahan ikan dan sagu yang dahulu dikenal dengan nama kelesan.

See also  Dari Penyidik ke Advokat, Babak Baru Vicky Katiandagho

Teknik menghaluskan ikan dan mencampurnya dengan bahan berpati memungkinkan masyarakat mengolah hasil tangkapan menjadi makanan dengan tekstur serta daya simpan yang berbeda dari ikan segar.

Namun, penentuan waktu pasti kemunculan pempek masih memerlukan kehati-hatian.

Cerita yang menghubungkannya langsung dengan masa Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-16 banyak beredar dalam penuturan sejarah kuliner, tetapi tidak semua rincian memiliki dukungan dokumen sezaman yang dapat diverifikasi.

Karena itu, sejarah pempek lebih tepat dipahami melalui perpaduan tradisi lisan, perkembangan bahan pangan lokal, dan perjalanan masyarakat Palembang sebagai komunitas perdagangan di tepian sungai.

Kisah mengenai asal-usul nama pempek juga menjadi bagian menarik dari warisan kuliner tersebut. Salah satu versi yang populer menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, seorang pedagang keturunan Tionghoa menjajakan olahan ikan kepada masyarakat.

See also  Pengalaman 10 Tahun di Kameramen, Ardy Kini Rela Melamar Jadi OB

Pembeli kemudian memanggilnya dengan sebutan “Apek” atau “Empek”, yang dalam penuturan populer dikaitkan dengan sapaan kepada laki-laki yang lebih tua dalam komunitas Tionghoa.

Seruan untuk membeli dagangan itu dipercaya turut membentuk penyebutan “pempek” atau “empek-empek”.

Meski dikenal luas, cerita tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa nama pempek secara definitif berasal dari satu pedagang atau satu kejadian tertentu.

Penelitian sejarah bahasa dan arsip perdagangan dapat membantu memperjelas kapan istilah tersebut mulai digunakan serta bagaimana penyebutannya menyebar di tengah masyarakat.

banner 1080x1592

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *