Bagi masyarakat, harapan mereka sederhana: semen tersedia dengan jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau.
Sebab, pembangunan rumah dan berbagai kebutuhan konstruksi merupakan bagian dari kebutuhan dasar masyarakat yang tidak dapat sepenuhnya ditunda.

Harga semen yang telah mencapai Rp80.000 per sak menjadi sinyal bahwa persoalan kelangkaan tidak lagi sekadar isu perdagangan.
Jika tidak segera ditangani, kenaikan harga dapat merembet ke biaya pembangunan, jasa konstruksi, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Karena itu, pemerintah daerah perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab kelangkaan, kondisi stok terkini, serta langkah yang akan dilakukan untuk menormalkan pasokan.
Masyarakat Aceh Tenggara kini menunggu kepastian.
Setelah sekitar tiga bulan menghadapi kelangkaan, mereka membutuhkan bukan hanya janji penambahan pasokan, tetapi solusi konkret agar harga semen kembali stabil dan pembangunan tidak terus terbebani.
Jika pasokan segera dipulihkan dan distribusi berjalan normal, tekanan harga di tingkat konsumen diharapkan dapat berangsur mereda.
Sebaliknya, apabila kelangkaan berlanjut dan harga kembali naik, beban ekonomi masyarakat akan semakin berat. | BerlianPos.Com | */Redaksi | *** |



















