BerlianPos.Com | JSCgroupmedia ~ Ardy Khairan Pohan (34), pria yang pernah menghabiskan lebih dari satu dekade bekerja di balik layar televisi, kini menghadapi realitas sulitnya mendapatkan pekerjaan. Mantan kameramen di sejumlah stasiun televisi nasional, termasuk Kompas TV, RTV, dan Trans TV, itu mengaku siap menerima pekerjaan apa pun, mulai dari office boy (OB), pengemudi, hingga petugas keamanan, demi tetap memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kisah Ardy menjadi gambaran bahwa pengalaman panjang dan keterampilan profesional tidak selalu menjadi jaminan seseorang dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan. Setelah bertahun-tahun menekuni dunia produksi televisi, ia kini harus membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan di luar bidang keahliannya.

Melalui unggahan yang dibagikannya, Ardy menceritakan perjuangannya mencari pekerjaan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan untuk tetap bekerja sering kali jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan gengsi profesi.
Bagi Ardy, pekerjaan bukan semata-mata tentang jabatan, posisi atau bidang yang sesuai dengan pengalaman. Hal terpenting adalah adanya kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan secara halal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keputusan untuk bersedia melamar sebagai OB, driver maupun security memperlihatkan perubahan besar dalam perjalanan kariernya. Dari pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sebagai kameramen televisi, kini ia membuka peluang untuk mengerjakan pekerjaan yang secara karakter berbeda.
Namun, di balik pilihan tersebut terdapat pesan sederhana tetapi kuat: bekerja tidak perlu malu selama dilakukan dengan cara yang benar.
Perjalanan Ardy juga menggambarkan persoalan yang lebih luas di tengah pasar kerja. Persaingan memperoleh pekerjaan membuat pengalaman bertahun-tahun tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang segera mendapatkan posisi baru.
Perubahan teknologi, transformasi industri media dan dinamika ekonomi turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Pekerjaan yang sebelumnya banyak tersedia dapat mengalami perubahan seiring perkembangan model bisnis dan teknologi.
Bagi pekerja media, perubahan tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri. Kemampuan teknis yang selama bertahun-tahun digunakan dalam produksi televisi harus terus disesuaikan dengan perkembangan industri digital.
Namun, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukan transisi tersebut.
Kisah Ardy memperlihatkan bahwa kehilangan atau sulit memperoleh pekerjaan tidak selalu berarti hilangnya kemampuan seseorang. Seseorang bisa tetap memiliki pengalaman, keterampilan dan etos kerja, tetapi menghadapi kondisi pasar yang membuat peluang kerja semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi sangat penting.
Kesediaan Ardy menerima pekerjaan di luar profesi utamanya menunjukkan bentuk adaptasi terhadap keadaan. Ia tidak menunggu pekerjaan ideal datang, tetapi membuka kemungkinan dari berbagai sektor yang tersedia.
Sikap semacam itu patut menjadi pelajaran, terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam proses mencari pekerjaan.
Gengsi tidak dapat membayar kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, pekerjaan yang dilakukan dengan jujur dapat menjadi jalan untuk mempertahankan kehidupan sekaligus membuka peluang baru.
Menjadi OB, driver atau security bukan pekerjaan yang lebih rendah dibandingkan pekerjaan lainnya. Setiap profesi memiliki tanggung jawab, tuntutan dan kontribusi masing-masing.
Yang menentukan nilai seseorang bukan semata-mata jabatan yang tercantum pada kartu nama, tetapi bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan dengan tanggung jawab dan integritas.
Kisah Ardy juga menjadi pengingat bahwa pencari kerja membutuhkan lebih dari sekadar motivasi. Mereka membutuhkan ekosistem ketenagakerjaan yang mampu membuka kesempatan secara nyata.





















