Prof. Herry Utomo Kembangkan Cahokia Rice, Beras Tinggi Protein dari Amerika

Foto ; repro/dok/ilustrasi*

BerlianPos.Com | JSCgroupmedia ~ Prof. Herry S. Utomo, ilmuwan asal Malang yang berkarier sebagai profesor di Louisiana State University (LSU) AgCenter, Amerika Serikat, berkontribusi dalam pengembangan beras berprotein tinggi yang dipasarkan dengan nama Cahokia Rice.

Inovasi yang dikembangkan bersama ahli pemuliaan tanaman Ida Wenefrida dan tim peneliti tersebut menawarkan kandungan protein lebih tinggi dibandingkan beras konvensional, melalui pendekatan pemuliaan tanaman tanpa memasukkan gen asing.

Read More
banner 300x250

Penelitian ini membuka peluang pengembangan pangan yang lebih bernutrisi, sekaligus menghadirkan tantangan baru terkait produktivitas, keterjangkauan harga, dan penerapannya di negara yang menjadikan beras sebagai makanan pokok, termasuk Indonesia.

See also  Kejati Maluku Tahan Lima Tersangka Korupsi SPAB Pulau Haruku

Cahokia Rice bukan sekadar produk pertanian dengan keunggulan kandungan gizi.

Di balik pengembangannya terdapat perjalanan penelitian bertahun-tahun, pengujian karakter tanaman, pemilihan galur, serta upaya mempertahankan mutu beras agar dapat diterima petani dan konsumen.

Inovasi ini memperlihatkan bagaimana ilmu pemuliaan tanaman dapat diarahkan untuk menjawab persoalan ketahanan pangan dan kekurangan protein, tanpa mengabaikan kebutuhan produksi pertanian yang efisien.

Menurut publikasi LSU AgCenter dan Crop Science Society of America, varietas yang menjadi dasar produk tersebut dikenal sebagai Frontière.

Kandungan proteinnya dilaporkan mencapai sekitar 10,6 persen, dibandingkan sekitar 7–8 persen pada sejumlah varietas beras konvensional.

Dalam laporan penelitian, peningkatan itu setara dengan sekitar 53 persen dibandingkan varietas asalnya. Produk yang dipasarkan dengan nama Cahokia dikembangkan untuk menyediakan pilihan beras dengan profil nutrisi lebih baik. [Laporan LSU AgCenter](https://www.lsuagcenter.com/articles/page1544205752875) dan [Publikasi Crop Science Society of America](https://www.crops.org/news/media-releases/releases/2019/0123/1063) menjadi rujukan utama mengenai pengembangan varietas tersebut.

See also  Sidang Perdana Korupsi Tunjangan DPRD Bekasi, Kerugian Negara Rp21,7 Miliar

Perbedaan persentase yang muncul dalam berbagai publikasi perlu dipahami secara cermat. Angka peningkatan protein dapat dipengaruhi oleh varietas pembanding, metode pengukuran, dan basis perhitungan.

Karena itu, klaim peningkatan sekitar 50–53 persen sebaiknya dibaca sebagai perbandingan yang dilaporkan oleh pengembang, bukan berarti setiap jenis beras di pasaran memiliki kandungan protein yang sama atau akan menunjukkan selisih identik.

Bagi masyarakat yang menjadikan nasi sebagai sumber energi utama, peningkatan kandungan protein dapat menjadi nilai tambah. Namun, manfaat tersebut tidak berarti beras dapat menggantikan seluruh sumber protein lain.

See also  Tokoh Pendidikan Belitung Timur Muslimah Hafsari Tutup Usia

Kebutuhan gizi tetap harus dipenuhi melalui pola makan beragam, termasuk kacang-kacangan, telur, ikan, daging, susu, dan sumber pangan lain sesuai kondisi masing-masing.

Penelitian Frontière berawal dari perhatian terhadap persoalan nutrisi pada masyarakat yang sangat bergantung pada beras.

Ida Wenefrida, peneliti pemuliaan tanaman di LSU AgCenter, melihat peluang untuk meningkatkan kualitas gizi bahan pangan yang telah dikonsumsi secara luas.

Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui proses penelitian yang panjang, dengan memanfaatkan sumber keragaman tanaman dan teknik pemuliaan untuk memperoleh karakter yang diinginkan.

Herry Utomo berperan dalam penelitian genetika molekuler, penanda genetik, dan pengembangan karakter unggul tanaman padi.

Keahliannya membantu proses identifikasi sifat yang relevan bagi pemuliaan, termasuk kualitas bulir dan komponen nutrisi.

banner 1080x1592

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *