Perubahan kurikulum, perkembangan metode pembelajaran, hingga kemajuan teknologi pendidikan menjadi bagian dari dinamika yang dijalaninya dengan penuh komitmen.
Profesi guru sendiri menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi. Selain menguasai materi pelajaran, guru dituntut mengikuti perkembangan dunia pendidikan agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Tantangan tersebut dijawab Herliana dengan semangat belajar sepanjang hayat, sebagaimana menjadi ciri khas seorang pendidik profesional.
Momentum purna bakti juga menjadi kesempatan bagi para siswa dan alumni untuk mengenang jasa para guru yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.
Tidak sedikit lulusan SD Negeri 24 Manggar yang kini melanjutkan pendidikan maupun berkiprah di berbagai profesi berkat fondasi ilmu dan karakter yang dibangun sejak bangku sekolah dasar.
Apresiasi terhadap pengabdian Herliana juga datang dari pegiat sosial kemasyarakatan dan pegiat pemerhati pembangunan daerah Bangka Belitung. CEO AUKBABEL (Aku Untuk Kemajuan Bangka Belitung), Alizar Tanjung, yang lebih dikenal dengan sapaan Rajo Ameh, menyampaikan ucapan terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan kepada dunia pendidikan.
“Terima kasih atas ilmunya. Semoga sehat wal’afiat dan terus berkarya untuk negeri. Salam dari saya, Rajo Ameh, CEO AUKBABEL, Aku Untuk Kemajuan Bangka Belitung,” ujar Alizar Tanjung.
Menurutnya, pengabdian seorang guru tidak berhenti ketika memasuki masa pensiun.
Ilmu yang telah diajarkan akan terus hidup melalui murid-murid yang kelak menjadi bagian dari pembangunan masyarakat, daerah, dan bangsa.
Pandangan tersebut sejalan dengan filosofi pendidikan yang menempatkan guru sebagai agen perubahan sosial.
Setiap ilmu yang ditanamkan kepada peserta didik akan berkembang menjadi kontribusi nyata ketika para murid memasuki kehidupan bermasyarakat.
Secara sosial, penghormatan terhadap guru yang memasuki masa purna bakti memiliki makna yang sangat penting.
Tradisi memberikan apresiasi kepada pendidik menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya menghargai profesi guru sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional.
Guru memiliki tanggung jawab yang tidak ringan.
Selain mengajar di ruang kelas, mereka membimbing peserta didik, berkomunikasi dengan orang tua, menyusun perangkat pembelajaran, melakukan penilaian, hingga mengikuti berbagai program peningkatan kompetensi agar kualitas pendidikan terus berkembang.
Karena itu, setiap momen purna bakti menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan nasional dibangun melalui dedikasi ribuan guru yang bekerja dengan penuh keikhlasan di berbagai daerah, termasuk di sekolah-sekolah yang berada jauh dari pusat kota.
Di berbagai wilayah Indonesia, pelepasan guru yang memasuki masa pensiun selalu berlangsung penuh haru.
Para siswa, guru, alumni, dan masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada sosok yang selama ini telah menjadi pembimbing sekaligus teladan.
















