Akibat Krisis Iklim, Warga Beltim Kehilangan 84 Jam Tidur Per Tahun

Foto ; dok/bbc*

BerlianPos.Com | JSCgroupmedia ~ Krisis iklim yang selama ini identik dengan cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut, kini menunjukkan dampak yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bukan hanya mengubah pola musim, perubahan iklim juga memengaruhi kualitas tidur manusia.

Read More
banner 300x250

Suhu malam yang semakin panas membuat masyarakat kehilangan waktu istirahat secara signifikan, sehingga berpotensi mengganggu kesehatan fisik, kebugaran mental, hingga produktivitas kerja.

See also  Jokowi Minta ASEAN Tangani Masalah Muslim Rohingya di Rakhine State

Temuan tersebut diungkap dalam laporan Climate Central berjudul Climate Change is Costing People Sleep, yang menunjukkan bahwa kenaikan suhu malam akibat perubahan iklim telah mengurangi durasi tidur jutaan orang di berbagai negara.

Indonesia bahkan termasuk negara dengan dampak paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Bagi masyarakat daerah kepulauan seperti Belitung Timur, persoalan ini patut menjadi perhatian.

Meski wilayah tersebut tidak termasuk dalam kota yang dianalisis secara khusus dalam laporan, karakteristik iklim tropis yang lembap serta tren meningkatnya suhu udara menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim juga berpotensi dirasakan masyarakat setempat.

See also  Rajo Ameh Luncurkan #PrayForHellyana, Dorong Dialog Politik Babel

Fenomena malam yang semakin panas bukan lagi sekadar rasa tidak nyaman saat tidur.

Para ilmuwan menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu konsekuensi nyata pemanasan global yang secara perlahan memengaruhi kualitas hidup manusia.

Indonesia Kehilangan Jam Tidur Lebih Tinggi

Berdasarkan laporan Climate Central, secara global masyarakat kehilangan rata-rata hampir 56 jam waktu tidur setiap tahun selama periode 2020–2025 akibat meningkatnya suhu malam.

Dari jumlah tersebut, sekitar enam jam secara langsung berkaitan dengan pemanasan global yang dipicu oleh perubahan iklim.

Namun, dampak yang dirasakan masyarakat Indonesia jauh lebih besar.

See also  Bersih-bersih, 60 Warga Tanjung Priok Ikuti Program Padat Karya

Data menunjukkan warga di sejumlah kota besar mengalami kehilangan waktu tidur yang melampaui rata-rata dunia.

Masyarakat Malang diperkirakan kehilangan sekitar 59 jam tidur setiap tahun.

Di Bandung, jumlahnya mencapai 61 jam.

Sementara Medan kehilangan sekitar 78 jam, Semarang sekitar 83 jam, Jakarta sekitar 84 jam, dan Surabaya menjadi kota dengan kehilangan waktu tidur tertinggi, yakni sekitar 91 jam per tahun.

Angka tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia menghadapi tekanan iklim yang semakin nyata terhadap kualitas istirahat.

banner 1080x1592

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *