Melalui dialog langsung, Kapolda dapat menjelaskan langkah-langkah yang telah diambil Polda, termasuk patroli laut bersama, penindakan terpadu, dan program pencegahan berbasis komunitas.
Ia juga mengajak tokoh agama, tokoh adat Melayu Bangka, dan pemuda untuk terlibat aktif dalam menjaga kamtibmas.

Secara ekspresif, suasana warung kopi yang hangat menjadi simbol perubahan paradigma kepolisian.
Jika dulu polisi identik dengan kantor yang formal dan menakutkan, kini polisi hadir di meja kopi yang sama dengan warga, menikmati kopi pahit khas Bangka dan mendengarkan cerita warga tentang kehidupan sehari-hari.
Suasana tersebut menciptakan kedekatan emosional yang tidak bisa dibangun melalui spanduk atau baliho.
Secara edukatif, kegiatan ini mengajarkan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi, tetapi tanggung jawab bersama. Warga diajak untuk aktif melaporkan kejahatan, tidak main hakim sendiri, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan konflik.
Kapolda juga mengingatkan tentang bahaya judi online dan pinjaman online ilegal yang kini meresahkan masyarakat Bangka Belitung.
Secara inisiatif dan inovatif, Polda Babel berencana menjadikan Kumpul Bersama Masyarakat sebagai agenda rutin mingguan di berbagai kecamatan, tidak hanya di Pangkalpinang tetapi juga di Sungailiat, Tanjungpandan, dan Mentok.
Setiap kegiatan akan melibatkan Bhabinkamtibmas dan Babinsa untuk memastikan solusi yang dihasilkan bersifat kolaboratif. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi Polda lain di Indonesia dalam mewujudkan Polri yang dekat dengan rakyat.
Secara inspiratif dan motivatif, kehadiran seorang jenderal bintang dua yang mau duduk lesehan di warung kopi memberikan contoh kepemimpinan yang melayani.
Bagi anggota kepolisian di bawahnya, tindakan tersebut menjadi teladan bahwa pangkat bukan penghalang untuk dekat dengan rakyat. Bagi warga, kegiatan ini menumbuhkan harapan bahwa suara mereka didengar dan ditindaklanjuti.
Secara informatif dan konstruktif, hasil dari dialog di Warkop POM akan dirangkum dan menjadi bahan evaluasi bagi Polda Babel dalam menyusun program kerja triwulan berikutnya.
Keluhan tentang penerangan jalan di kawasan Pangkalbalam, misalnya, akan dikoordinasikan dengan pemerintah kota. Persoalan kenakalan remaja akan ditangani melalui pembinaan di sekolah.
Dengan demikian, Kumpul Bersama Masyarakat tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi menjadi jembatan nyata antara aspirasi warga dan kebijakan kepolisian sesuai tagline Polisi Bersama Masyarakat.
Pada akhirnya, kegiatan pada Rabu pagi 4 November 2026 tersebut menegaskan bahwa warung kopi dapat menjadi ruang demokrasi dan keamanan.
Di tengah tantangan kamtibmas yang semakin kompleks, pendekatan humanis yang dilakukan Kapolda Babel di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menjadi bukti bahwa pelayanan kepolisian yang responsif, transparan, dan dekat dengan masyarakat bukan sekadar slogan, melainkan dapat diwujudkan melalui secangkir kopi dan dialog yang tulus.
| BerlianPos.Com */Redaksi | *** |





















