Sementara itu, kriminolog dari Universitas Gadjah Mada, Prof. M. Mustofa, menyebut pendekatan dialogis dapat menekan angka main hakim sendiri karena warga merasa memiliki saluran resmi untuk menyampaikan keluhan.
Reaksi masyarakat di media sosial menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Di Facebook, akun resmi Polda Kepulauan Bangka Belitung dan grup Info Warga Pangkalpinang membagikan foto kebersamaan Kapolda dengan warga di Warkop POM, dengan komentar positif yang memuji kesederhanaan Irjen Agus Wijayanto.
Di Instagram, akun @polda_babel dan @polrestapangkalpinang mengunggah reels singkat yang memperlihatkan Kapolda menyeduh kopi dan berbincang dengan tokoh masyarakat, ditonton ribuan kali dalam hitungan jam.
Di platform X, tagar Polisi Bersama Masyarakat dan Kapolda Babel Ngopi Bareng sempat menjadi trending lokal Bangka Belitung.
Di Telegram, grup Info Laka dan Kamtibmas Bangka menjadi tempat warga menyampaikan keluhan lanjutan yang tidak sempat disampaikan langsung di warung kopi.
Secara historis, sosok Irjen Pol Agus Wijayanto memiliki rekam jejak panjang di kepolisian.
Lulusan Akademi Kepolisian dengan gelar sarjana hukum, magister hukum, dan pendidikan kepolisian lanjutan ini pernah bertugas di berbagai fungsi reserse dan pembinaan masyarakat.
Ia dikenal sebagai perwira yang mengedepankan pendekatan humanis dan telah memimpin beberapa operasi kemanusiaan di wilayah kepulauan.
Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto sendiri menjadi babak baru bagi Polri setelah pergantian pimpinan pada Oktober 2026.
Dalam pidato perdananya, Suyudi menekankan tagline Polisi Bersama Masyarakat sebagai arah kebijakan yang menempatkan warga sebagai mitra, bukan objek penindakan.
Tagline tersebut kemudian diterjemahkan oleh seluruh Polda menjadi program-program dialogis.
Sejarah Warkop POM Pangkalbalam juga menarik untuk diurai. Kawasan Pangkalbalam merupakan salah satu kawasan tertua di Pangkalpinang yang sejak zaman kemerdekaan menjadi pusat aktivitas nelayan dan perdagangan.
Warung kopi di kawasan ini tidak hanya tempat minum kopi, tetapi juga menjadi ruang diskusi politik, ekonomi, dan sosial.
Tradisi ngopi di Bangka Belitung memiliki nilai budaya yang kuat, di mana kopi pahit disajikan dengan cara yang khas dan menjadi simbol persaudaraan.
Oleh karena itu, pilihan lokasi ini bukan sekadar teknis, melainkan pilihan kultural yang menghormati tradisi lokal.
Kegiatan Kumpul Bersama Masyarakat juga berkaitan dengan konteks keamanan terkini di Bangka Belitung.
Wilayah ini menghadapi tantangan berupa maraknya aktivitas penambangan timah ilegal, peredaran narkoba melalui jalur laut, meningkatnya kejahatan siber seperti judi online dan pinjaman online ilegal, serta konflik lahan.





















