BerlianPos.Com | JSCgroupmedia ~ Pinang Merah Indonesia mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertimbangkan pengurangan ekspor batu bara ke Malaysia hingga 50 persen sebagai bentuk protes diplomatik terhadap dugaan penghinaan terhadap bendera Merah Putih dan pejuang nasional Indonesia oleh oknum warga Malaysia.
Desakan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Pinang Merah Indonesia, Rajo Ameh, menyusul insiden yang disebut berkaitan dengan kekalahan dalam pertandingan sepak bola pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026.

Usulan itu muncul di tengah hubungan perdagangan batu bara kedua negara yang memiliki nilai ekonomi strategis, sehingga penerapannya memerlukan verifikasi fakta, kajian dampak, serta pertimbangan kepentingan nasional.
Rajo Ameh menyatakan pemerintah Indonesia perlu menunjukkan sikap tegas apabila penghinaan terhadap simbol negara dan tokoh perjuangan nasional benar-benar terjadi.
Menurut dia, pemerintah Malaysia perlu didorong untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan mengambil langkah sesuai hukum yang berlaku.
Ia menilai pengurangan ekspor batu bara dapat dipertimbangkan sebagai bentuk tekanan agar persoalan tersebut ditangani secara serius.
“Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Indonesia perlu mempertimbangkan penghentian ekspor batu bara ke Malaysia atau setidaknya menguranginya sebesar 50 persen sebagai bentuk protes.
Kami meminta pemerintah Malaysia segera menindak oknum yang diduga menghina bendera dan pejuang nasional Indonesia,” tutur Rajo Ameh kepada media, sebagaimana disampaikan dalam keterangan Pinang Merah Indonesia.
Pernyataan tersebut merupakan sikap organisasi yang disampaikan melalui Rajo Ameh, bukan pengumuman kebijakan pemerintah Indonesia.
Hingga terdapat keterangan resmi dari otoritas terkait, belum dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah mempertimbangkan atau memutuskan pembatasan ekspor sebagai respons terhadap insiden tersebut.
Informasi awal yang menjadi latar belakang pernyataan itu menyebut ekspor batu bara Indonesia ke Malaysia pada September 2026 mencapai 1,87 juta metrik ton.
Angka tersebut dilaporkan turun 10,69 persen dibandingkan Agustus 2026 dan merosot 26,02 persen dibandingkan September 2025.
Jika angka dan persentase itu terkonfirmasi melalui data perdagangan resmi, penurunan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi mengenai perkembangan permintaan, pola pengiriman, dan dinamika pasar batu bara.
Namun, penurunan ekspor dalam satu bulan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya perubahan kebijakan atau tindakan balasan terhadap persoalan politik.
Volume perdagangan dapat dipengaruhi jadwal pengapalan, kebutuhan pembangkit listrik, harga komoditas, persediaan, kontrak pembelian, serta kondisi pasar internasional.
Karena itu, penyebab penurunan pada September 2026 perlu ditelusuri melalui data dan keterangan dari pihak terkait sebelum dikaitkan dengan suatu peristiwa tertentu.
Data yang dikemukakan dalam informasi awal juga menyebut pengiriman batu bara Indonesia ke Malaysia sepanjang 2025 mencapai sekitar 27,62 juta ton dengan merujuk pada Badan Pusat Statistik (BPS).
Angka tahunan tersebut perlu diperiksa kembali pada tabel ekspor menurut negara tujuan dan komoditas, termasuk satuan berat serta kode barang yang digunakan.





















