Rata-rata kehilangan sekitar 84 jam tidur per tahun sering digunakan sebagai gambaran besarnya dampak di kota-kota Indonesia, meskipun besarnya berbeda-beda di setiap wilayah berdasarkan kondisi iklim dan lingkungan perkotaannya.
Mengapa Suhu Malam Sangat Berpengaruh?

Secara ilmiah, tubuh manusia membutuhkan penurunan suhu inti agar dapat memasuki fase tidur yang berkualitas.
Ketika suhu udara tetap tinggi hingga larut malam, mekanisme alami tubuh untuk melepaskan panas menjadi terganggu.
Akibatnya, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur, lebih mudah terbangun di tengah malam, dan tidak memperoleh fase tidur dalam (deep sleep) secara optimal.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menyebabkan tubuh tetap merasa lelah meskipun seseorang telah berada di tempat tidur selama berjam-jam.
Ancaman terhadap Kesehatan
Ketua Global Climate and Health Alliance, Courtney Howard, menjelaskan bahwa orang dewasa idealnya membutuhkan waktu tidur 7 hingga 9 jam setiap malam.
Durasi tersebut diperlukan agar berbagai sistem tubuh dapat melakukan proses pemulihan secara optimal.
Menurut Howard, meningkatnya suhu malam akibat perubahan iklim secara langsung mengganggu proses tersebut.
Dampaknya bahkan lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kelompok lanjut usia, perempuan, serta mereka yang tinggal di rumah dengan ventilasi kurang memadai.
Dalam keterangannya, Howard menjelaskan bahwa tidur kurang dari tujuh jam setiap malam berkaitan dengan menurunnya fungsi sistem kekebalan tubuh, meningkatnya kesalahan kerja, bertambahnya risiko kecelakaan, hingga menurunnya kemampuan berpikir.
Apabila berlangsung secara terus-menerus, kurang tidur juga berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta meningkatnya risiko kematian dini.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas tidur merupakan bagian penting dari kesehatan masyarakat yang selama ini sering diabaikan.
Produktivitas Ikut Menurun
Kurang tidur tidak hanya berdampak terhadap kesehatan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa produktivitas kerja ikut mengalami penurunan ketika kualitas istirahat memburuk.
Pekerja yang kurang tidur cenderung mengalami penurunan konsentrasi, lambat mengambil keputusan, mudah melakukan kesalahan, dan lebih cepat mengalami kelelahan.





















