“Industri harus kita pilih yang memberikan nilai tambah, bukan industri yang hanya mengambil sumber daya lalu meninggalkan persoalan bagi masyarakat,” ujarnya.
Pandangan tersebut menjadi penting karena Belitung Timur memiliki karakter geografis dan lingkungan yang harus diperhitungkan dalam menentukan model pembangunan.

Sebagai wilayah kepulauan, daerah ini memiliki potensi sumber daya alam, perkebunan, perikanan, pariwisata serta kekayaan lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, pilihan pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari persoalan keberlanjutan.
Perkebunan, misalnya, dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat apabila dikelola secara berkeadilan. Sektor tersebut mampu memberikan pendapatan jangka panjang bagi petani, menciptakan lapangan kerja dan menjaga aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan.
Namun, persoalan penguasaan lahan, ketergantungan terhadap harga komoditas dan lemahnya posisi petani dapat menjadi tantangan apabila pembangunan perkebunan lebih banyak dikuasai oleh korporasi besar.
Dalam kondisi tertentu, masyarakat lokal dapat kehilangan posisi sebagai pemilik atau pengelola lahan dan hanya menjadi pekerja. Situasi tersebut tentu harus diantisipasi melalui kebijakan yang melindungi kepentingan masyarakat.
Sementara pertambangan memiliki karakter berbeda.
Sektor ini dapat menghasilkan investasi besar, penerimaan negara maupun daerah, serta lapangan pekerjaan dengan upah tertentu yang relatif tinggi.
Akan tetapi, sumber daya mineral bersifat terbatas dan aktivitas pertambangan memiliki risiko ekologis apabila tidak dikendalikan secara ketat.
Bagi Rajo Ameh, persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius sebelum Belitung Timur menentukan arah pembangunan.
Ia tidak menutup mata terhadap kebutuhan investasi. Justru menurutnya, Belitung Timur membutuhkan investasi dalam skala besar agar ekonomi daerah bergerak lebih cepat.
Tetapi investasi yang dicari, kata dia, harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan tidak menjadikan kekayaan alam sebagai satu-satunya sumber pertumbuhan.
“Investasi tetap kita butuhkan. Tetapi kita harus memilih investasi yang membuat masyarakat semakin kuat, SDM semakin maju dan ekonomi daerah semakin mandiri,” katanya.
Rajo Ameh juga menilai industrialisasi dapat menjadi pintu masuk menuju hilirisasi. Komoditas yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah dapat diolah lebih lanjut di dalam daerah sehingga menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Konsep tersebut berpotensi menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang. Petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, perusahaan logistik hingga sektor jasa dapat memperoleh bagian dari perputaran ekonomi apabila industri dibangun dengan pola kemitraan yang sehat.
Namun, gagasan industrialisasi Belitung Timur juga membutuhkan kesiapan serius.
Infrastruktur jalan, pelabuhan, listrik, air baku, telekomunikasi dan kawasan permukiman harus mampu mendukung aktivitas industri.



















