Selain itu, kualitas pendidikan dan pelatihan tenaga kerja harus ditingkatkan agar kebutuhan industri tidak justru dipenuhi mayoritas pekerja dari luar daerah.
Persoalan inilah yang menurut Rajo Ameh harus dijawab pemerintah sejak awal.

Jangan sampai investasi masuk, tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Jangan pula kawasan industri berkembang sementara persoalan lingkungan dan sosial justru dibebankan kepada warga.
“Jangan sampai orang luar datang membawa keahlian, sedangkan anak-anak daerah hanya menjadi penonton. Pemerintah harus menyiapkan SDM lokal sejak sekarang,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Belitung Timur menyusun peta jalan industrialisasi yang jelas dan terbuka.
Pemerintah harus menentukan industri apa yang cocok, wilayah mana yang dapat dikembangkan, berapa kebutuhan tenaga kerja, bagaimana sistem perlindungan lingkungan dan seberapa besar kontribusinya terhadap PAD.
Menurut Rajo Ameh yang juga alumni wartawan Babelpos dari Jawapos Group itu, mengatakan masyarakat juga harus dilibatkan sejak proses perencanaan.
Investasi tidak boleh hanya menjadi kesepakatan antara pemerintah dan investor. Warga yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan harus memperoleh informasi yang jelas mengenai dampak, manfaat, peluang pekerjaan serta mekanisme perlindungan lingkungan.
Dengan demikian, industrialisasi dapat menjadi proyek bersama, bukan sekadar proyek modal.
Rajo Ameh menilai keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak perusahaan yang berdiri atau berapa besar nilai investasi yang diumumkan.
Ukuran yang lebih penting adalah meningkatnya pendapatan masyarakat, berkurangnya pengangguran, meningkatnya kualitas SDM, bertambahnya pelaku usaha lokal dan semakin kuatnya kemampuan fiskal daerah.
Di sisi lain, pemerintah harus tetap membuka ruang bagi sektor perkebunan, perikanan, pariwisata dan ekonomi kreatif. Industrialisasi tidak berarti sektor tradisional harus ditinggalkan.
Justru sektor-sektor tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru Belitung Timur.
Industri pengolahan hasil perkebunan, misalnya, dapat memberikan nilai tambah bagi petani. Industri pengolahan hasil laut dapat memperkuat sektor perikanan.
Industri pendukung pariwisata dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Bahkan ekonomi kreatif berbasis budaya dan potensi lokal dapat berkembang apabila memperoleh dukungan teknologi, modal dan pasar.
Dengan pendekatan tersebut, industrialisasi tidak harus berhadapan dengan masyarakat atau lingkungan. Sebaliknya, industri dapat menjadi penghubung antara potensi lokal dengan pasar yang lebih luas.
Rajo Ameh berharap perdebatan mengenai masa depan ekonomi Belitung Timur tidak berhenti pada pilihan sederhana antara industri, perkebunan atau pertambangan.
Yang jauh lebih penting, menurutnya, adalah bagaimana pemerintah Daerah menentukan sektor unggulan berdasarkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.



















