Keberhasilan evakuasi tersebut tidak berarti seluruh keluarga sekolah terbebas dari kehilangan.
Dua anggota staf sekolah dilaporkan menjadi korban setelah kembali menuju tempat tinggal atau kawasan sekolah ketika banjir datang. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa cepat dan dahsyatnya perubahan kondisi di wilayah terdampak.

Banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut berkaitan dengan runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet.
Material es, batu, air dan lumpur bergerak turun melalui sistem sungai dan lembah, menghantam permukiman serta infrastruktur di sepanjang jalur aliran.
Para ahli menyebut runtuhnya massa gletser memicu aliran material besar yang kemudian menyebabkan kenaikan permukaan sungai secara sangat cepat.
Kondisi geografis kawasan Himalaya membuat masyarakat di lembah memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan diri ketika aliran besar bergerak turun dari wilayah hulu.
Bencana tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tragedi besar di kawasan Nepal dan perbatasan Tibet.
Rumah, jembatan, jalan, fasilitas umum hingga sejumlah sekolah rusak atau hancur. Ribuan orang dilaporkan meninggal dunia, hilang maupun terdampak, sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan.
Angka korban juga masih berubah seiring proses pendataan dan pencarian di wilayah terpencil.
Di tengah skala bencana tersebut, kisah Tribhuvan Trishuli Secondary School menjadi perhatian dunia karena memperlihatkan pentingnya kepemimpinan dalam situasi darurat.
Rajendra Dawadi tidak memiliki waktu untuk menggelar rapat panjang. Ia harus mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia. Keputusan beberapa menit itu menentukan keselamatan ribuan anak.
Dalam kondisi normal, kepala sekolah bertugas mengelola kegiatan pendidikan, memastikan proses belajar berjalan dan membangun lingkungan sekolah yang aman. Namun ketika bencana datang, fungsi tersebut berubah menjadi kepemimpinan krisis.
Dawadi harus memastikan guru bergerak cepat, siswa tidak panik, kendaraan dihentikan dan seluruh warga sekolah menuju lokasi yang lebih aman.
Kisah tersebut memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan, termasuk bagi daerah-daerah yang berada di wilayah rawan bencana.
Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan. Sekolah juga harus menjadi ruang yang memiliki kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.
Guru dan kepala sekolah perlu mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul, sistem peringatan dini serta prosedur penyelamatan siswa.
Lebih penting lagi, simulasi tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial.
Ketika bencana benar-benar terjadi, setiap detik dapat menentukan apakah seseorang selamat atau menjadi korban.





















