Ketika peringatan diterima, setiap pihak harus tahu apa yang harus dilakukan.
Dan ketika keselamatan anak menjadi taruhan, keberanian mengambil keputusan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.

Tribhuvan Trishuli Secondary School kini menghadapi pekerjaan besar untuk bangkit kembali. Selain pembangunan kembali fasilitas pendidikan, para siswa juga membutuhkan pemulihan psikologis setelah mengalami peristiwa traumatis.
Kepala sekolah sendiri menyerukan agar sekolah dapat dibangun kembali di lokasi yang lebih aman dan pendidikan para siswa segera dipulihkan.
Bagi Nepal, tragedi ini meninggalkan luka panjang. Namun dari tengah bencana itu muncul sebuah kisah yang memberikan harapan.
Sebanyak 1.643 siswa berhasil keluar dari sekolah sebelum banjir menghancurkan bangunan mereka.
Itu bukan sekadar kisah tentang seorang kepala sekolah. Itu adalah kisah tentang keberanian, kepemimpinan, kesiapsiagaan dan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, seorang pendidik tidak hanya mengajarkan pelajaran di dalam kelas. Dalam keadaan tertentu, ia harus mampu menjadi pelindung.
Dan pada pagi yang menentukan di Lembah Trishuli, Rajendra Dawadi menunjukkan bahwa satu keputusan yang tepat, diambil pada waktu yang tepat, dapat menjadi batas tipis antara tragedi dan keselamatan ribuan anak.
Di tengah bencana yang merenggut begitu banyak korban, 1.643 siswa pulang dengan satu hal yang paling berharga: kesempatan untuk tetap hidup, belajar, dan melanjutkan masa depan mereka. | BerlianPos.Com | */Redaksi | *** |





















